Rabu, 04 Februari 2009

SURAT SEORANG ANAK

Salam, Bundaku sayang!

Semoga keselamatan Alloh senantiasa tercurah kepada Bunda. Dan aku tidak lupa bersholawat seperti anjuran Bunda. Semoga Bunda. Amin.

Bu, aku tulis surat ini setelah membaca satu Surat Pembaca tentang IRT (Ibu Rumah Tahngga). Suratnya yang diterbitkan salah satu surat kabar (PR) itu sebagai tanggapan atas pernyataan seorang Dra. Imas Sumiati, M.Si. Dia menyanggah pernyataan “Dia hidup di dunia hanya sekedar hidup, sekedar tempat melahirkan anak, mengurus keluarga dan melayani suami” yang dikemukakan Dra. itu sebagai keprihatinnya terhadap posisi wanita Indonesia.

Aku ingat Bunda setelah membaca. Aku termenung, Bu, memikirkan sanggahan Ibu Titi Rosnita, S.E.. “Ya Alloh, bukankah pekerjaan ibu rumah tangga (IRT) begitu mulya, pekerjaan inilah yang bisa mencetak anak-anak cerdas, sehat, berakhlak mulia, dan bisa mencetak gengerasi yang bermanfaat duina dan akhirat. Maafkan aku, Bunda! Maafkanlah!

Aku semakin tersadar, Bunda adalah teladan bagi perempuan, para ibu-ibu. Yang selalu mengajarkan “penerimaan”, mengajarkan bersabar dan bersyukur. Yang mengajarkanku menghormati kaum perempuan. Bapak juga sering ceritakan tentang keteladan Bunda bila kami sedang berdua di ruang balakang. Ah, Bunda, aku rindu pulang.

Tapi dalam menulis surat ini, Bunda, aku merasa sedih. Aku perhatikan pernyataan Dra. Sumiati. Rasanya, itu mewakili kebanyakan perempuan masa kini. Dan lebih sedih lagi memperhatikan pernyataan Ibu Rosnita, S.E.. Mungkin sangat sedikit yang mampu menyatakan hormat dan memuliakan IRT seperti dia.

Bunda ku sayang, mohon do’akan anakmu ini. Do’akan agar aku mampu memuliakanmu seperti kemuliaan yang diterangkan Bagina Nabi saw..

Sampaikan salam hormatku kepada Bapak. Semoga dia dan Bunda dalam naungan keselamatan Alloh SWT.. amin.

Salam, Bunda!

Bandung 4 Januari 2009 gin ginanjar

Tidak ada komentar: